BANYUWANGIi [Bhayangkara News] - Perjalanan pelaku dugaan  asusila terhadap 6 santri di Banyuwangi, Jawa Timur berakhir mengenaskan.

Tim Khusus atau timsus Macan Blambangan Satreskrim Polresta Banyuwangi akhirnya menjemput paksa pengasuh dan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) asal Banyuwangi di Lampung Utara.  

Polisi menjemput paksa FZ (57) asal Desa Padang, Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi yang dilaporkan melakukan aksi asusila terhadap santrinya. 

Pengasuh Ponpes dijemput paksa oleh timsus Macan Blambangan Satreskrim Polresta Banyuwangi dikarenakan mangkir dua kali panggilan. 

Polisi menjemput paksa terhadap pelaku diduga melakukan asusila terhadap santrinya di daerah Lampung Utara. 

Pelaku berusaha mencoba kabur, setelah dilaporkan oleh 6 korban santri atas dugaan asusila. Penjemputan tersebut dilakukan oleh timsus Macan Blambangan Satreskrim Polresta Banyuwangi. 

Keberadaan pelaku bernama FZ  itu, sudah terendus pihak Kepolisian Polresta Banyuwangi. Timsus Macan Blambangan Satreskrim Polresta Banyuwangi gerak cepat melakukan pencarian dan melakukan penangkapan terhadap pelaku bernama FZ, Rabo (6/7/22). 

Pelaku berhasil ditangkap saat bersembunyi di wilayah Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara. Saat ini, FZ sudah dibawa ke Mapolresta Banyuwangi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. 

Kapolresta Banyuwangi,  Kombes Pol Deddy Foury Millewa menjelaskan awal pengejaran dan penangkapan terhadap pelaku. 

Kapolresta menerangkan melakukan analisa IT untuk mencari keberadaan FZ yang mangkir pemanggilan pertama dan kedua. 

"Dari hasil analisa IT yang dilakukan oleh tim Opsnal Satreskrim alhirnya kami koordinasi dengan Polres Lampung Utara untuk melakukan pencarian dan menangkap pelaku, kata Kapolresta, saat konferensi pers pada kamis sore (7/7/22).

Kombes Pol Deddy Foury Millewa, lebih lanjut menyampaikan bahwa timsus melakukan penjemputan FZ di Kecamatan Bunga Mayang, Kabupaten Lampung Utara menempuh waktu 4 jam dari Kota Bandar Lampung. 

Dari Lampung Utara tim kemudian menempuh perjalanan darat menuju Bandara Soekarno hatta untuk membawa pelaku bernama FZ terbang ke Banyuwangi. 

"Saat perjalanan dari Lampung Utara FZ dihadapan Petugas mengakui perbuatannya dan sangat kooperatif dengan petugas yang menjemputnya. 

FZ  bersembunyi di Lampung Utara untuk menumpang di salah satu seorang santri yang permah mondok di Banyuwangi, "ungkap Kapolresta. 

Sebelum Polisi melakukan penangkapan terhadap FZ, sebelumnya Polisi sudah melayangkan surat panggilan sebanyak dua kali. 

Panggilan pertama pada 28 juni lalu, FZ  tidak hadir. Panggilan kedua pada hari jumat (1/7/22), FZ juga tidak hadir,  dalam panggilan itu FZ tidak alasan atau keterangan ketidak hadiran pelaku bernama FZ. 

Oleh karena itu, Polisi melakukan penjemputan paksa terhadap pelaku FZ. Namun karena diduga kabur, Polisi melakukan pencarian FZ yang diketahui bersembunyi di Lampung Utara, sehingga Polisi melakukan penangkapan pelaku. 

Pelaku bernama FZ disangkakan dengan perkara persetubuhan atau Pencabulan anak bawah umur sebagaimana dimaksud dalam pasal 81 ayat (1) Jo pasal 76d dan pasal 81 ayat (3) Sub pasal 81 ayat (2) dan pasal 82 ayat (1) Jo pasal 76e dan pasal 82 ayat (4) Subsider pasal 82 ayat (2) UU RI No 17 tahun 2016 tentang Perpu No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang - undang Jo pasal 17d ayat (1) Sub pasal 59 ayat (2) UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI Nomor 23 tahun 2022 tentang perlindungan anak,"tambahnya. Humas polresta, IPTU lita kurniawan [Read/sus]