NTT [bhayangkara.news]- Larantuka. AN- Perpustakaan selalu di analogikan dengan gudang buku atau ruang kumuh penyimpan buku yang sudah menjadi kenyataan dan tidak bisa dipungkiri. Sementara itu kalimat keren diungkapkan untuk perpustakaan adalah Jantungnya pendidikan menjadi kontradiktif, demikian kesan Camat Witihama Laurensius Lebu Raya, dalam sambutan pembukanya. 
Menurut Laurens bahwa morat maritnya pengelolaan perpustakaan sekolah mengakibatkan perpustakaan tidak mampu berkotribusi terhadap dunia pendidikan. Tapi hadirnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan melalui kegiatan bimbingan teknis perpustakaan bagi pengelola perpustakaan sekolah di wilayah Kecamatan Witihama adalah suatu  kehormatan bagi wilayah ini. Oleh karena itu sangat diharapakn para guru/pengelola perpustakaan sekolah dapat memanfaatkan waktu singkat ini untuk mulai berbenah pengelolaan perpustakaannya. 
Pada kegiatan tersebut di hadiri juga kepala Dinas Perputakaan dan Kearsipan Daerah Flores timur Drs. Benediktus B Herin. Pada kata pengantar pembukaan kegiatan di maksud benediktus lebih menekan pada Perbaikan pengelolaan perpustakaan sekolah. Di karenakan Melalui berbagai survey terhadap penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah, Ditemukan bahwa pengelolaan perpustakaan sekolah di seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur sungguh sangat memprihatinkan. Kondisi yang di maksud  disebabkan oleh sederetan masalah yang terkesan di biarkan dan tidak segera menacari solusinya.
Tapi jika masalah itu  terus menerus dan tidak segera mendapatkan solusi nya justru masalah tersebut dapat menjadi momok yang berimbas pada ketahanan sekolah sebagai pusat pendidikan dan pengajaran dan Dengan adanya perpustakaan sekolah itu sendiri justru akan membuat waktu para murid lebih efektif untuk belajar ‘’ketika jam pelajaran kalua ada guru yang berhalangan masuk bisa kita arahkan mereka ke perpustakaan untuk membaca’’. Fungsi dan tujuan ada nya perpustkaan adalah mencerdaskan anak bangsa, maka sangat di sayangkan kalau kita tidak memanfaatkan perpustakaan itu sendiri sebagai media untuk untuk belajar ujar Benediktus .

 Masih dari Benediktus kebijakan pembangunan perputakaan secara manejerial diarahkan pada penguatan kualitas penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan desa dan sekolah. Dan Kali ini lebih diprioritaskan kepada bimbingan teknis kepada para pengelola perpustakaan sekolah. Harapan kedepan setelah di lakukan bimbingan teknis tersebut para pengelola dapat mengelola perpustakaan yang baik dan benar berdasarkan standar nasional pengelolaan perpustakaan sekolah.
Pada kegitan bimtek tersebut di hadiri oleh 24 orang peserta yang terdiri dari   18 orang pengelola perpustakaan sekolah SD, 5 SMP/MTS  dan 1 SMA.  Imelda Tuto seorang peserta bimtek  dan juga pengelola Perpustakaan SMA Lamaholot diri  mengakui bahwa selama ini mereka tidak pernah mendapatkan pendampingan secara khusus seperti ini. Karena itu Imel berharap waktu pelatihan yang singkat ini tidak membatasi ruang pertemuan lanjutan dalam mengelola perpustakaan di sekolah. 
Untuk di ketahui baru-baru ini  Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Daerah Kabupatan Flores Timur yang berkerja sama dengan Perpustakaan Nasional Telah menyalurkan Bantuan berupa 1448 paket buku, 3 unit computer, 1 unit printer dan 1 buat modem. Masing masing di berikan kepada 4 desa yang ada di Flores Timur 4 Desa yang di maksud adalah Desa Wulublolong Kecamatan Solor selatan , Desa Boru   Kecamatan Wulanggitang, Desa Bantala Keacamatan Lewolema dan Desa Lewolema Kecamatan Ile mandiri. Ahir kata penulis mengucapkan ‘’salam Literasi, Litersi Untuk sejaterah’’.ell

Bhayangkara.news NTT
[RED]