MEDAN, [Bhayangkara News] - Seorang Ibu melalui LBH Perisi Keadilan, Pidanakan Istri Kedua Almarhum Suaminya ke Polrestabes MS karena diduga telah menggunakan dan memasukan data palsu dalam Akte Otententik Kartu Keluarga untuk mendapatkan keuntungan dari uang TAPERA dan rencana mencairkan Dana Taspen milik Almarhum Suaminya Jurnal Hutabarat ke Polrestabes Medan, Kamis, 18 Maret 2021 tepatnya pukul 10.00 WIB pagi.


Ariffani, SH selaku Kuasa hukum dari LBH Perisai Keadilan menyampaikan bahwa “Klien kami adalah seorang Ibu yang merupakan istri pertama Almarhum suaminya Zurnal Hutabarat, beliau sangat terkejut karena istri kedua dari Almahurm suaminya membuat Akte berupa Kartu Keluarga yang memasukan atau mencantumkan data seolah olah ketiga anaknya bernama Nirwana, Friska dan Fredy adalah anak kandung Istri Keduanya tersebut. Padahal ketiga anak-anaknya tersebut adalah anak kandung nya dari hasil pernikahan bersama Almarhum suaminya Zurnal Huatabarat. Tujuanya adalah untuk mengambil dana TAPERA dan dana TASPEN dari Almarhum suaminya.

Klien kami merasa keberatan dan merasa dirugikan oleh ulah Istri kedua Almarhum suaminya ini, kemudian melaporkan perkara ini ke Polrestabes Medan dengan Laporan Polisi Nomor LP/378/II/2021/SPKT Retabes Medan, tertanggal 19 Fenruari 2021 a.n Pelapor Nirwana Susanti Hutabarat. Hari ini rencananya akan dilakukan proses Wawancara/Intrograsi oleh pihak Penyidik Polrestabes Unit Tipidsus Subnit Tipiter Reskrim Polrestabes Medan.


Konflik antar keduanya ini berawal dari permasalahan yang menimpa Almarhum suaminya yang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di bulan Januari 2021 kemarin. Pasca meninggalnya Almarhum, istri keduanya kemudian berencana ingin mengambil dana santunan kecelakaan lalu lintas almarhum dan santunan dari Taspen. Nah ketika diajukan diketahuilah ternyata, istri kedua almarhum itu memasukan data palsu dengan menepatkan data bahwa ke 3 anak Almarhum yang ada adalah anak kandung dari istri kedua almarhum tersebut. Usaha menggunakan akte aspal inipun diulangi lagi oleh yang bersangkutan untuk mengurus dana TASPEN dan dana Santunan dari Jasa Raharja Almarhum. Mengetahui bahwa yang bersangkutan mencantumkan bahwa ke tiga anak-anaknya adalah anak kandung Terlapor, maka Istri pertama almarhum merasa keberatan dan melaporkan kasus ini.


Sesuai dengan KUHPidana maka perbuatan Terlapor diancam dengan Dugaan Perbuatan Tindak Pidana Pemalsuan Surat dan atau menempatkan Keterangan Palsu dalam Satu Akta Authentik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 dan atau 266 KUHPidana. Alhamdulilah, Laporan kita sudah diterima oleh Pihak Kepolisian dan selanjutnya hari ini direncanakan akan dilakukan Wawancara/Introgasi pada Pelapor, dan Saksi-saksi.

Kita sudah mengupayakan jalur mediasi secara musyarawah dengan Terlapor, akan tetapi sampai dengan hari ini Terlapor tidak menunjukan iktikad baik untuk meyelesaikan permasalahan ini, dan seolah oleh kebal hukum. Lewat somasi dan Undangan ke I, Somasi ke II dan Somasi ke III yang kita layangkan pada Terlapor, kita sampaikan untuk datang dan membicarakan permasalahannya, akan tetapi sampai detik ini Terlapor tidak mengubrisnya. Jadi cukup alasan bagi kita untuk menganggap bahwa Terlapor tidak punya iktikad baik untuk menyelesaikan, ya terpaksa kita adukan ke Polrestabes Medan, tegas Arif yang juga Ketua Umum PERADI Pergerakan DPC Langkat ini. [BN006-Realase]